Sebagian petani di
Kecamatan Baki dan Gatak, Sukoharjo, Jawa Tengah, telah menggunakan mesin pompa
untuk mengairi sawahnya selama beberapa hari terakhir dimana umur padi sudah
kisaran dua minggu sampai satu bulan. Ya, petani di daerah sana terpaksa
menggunakan mesin pompa dikarenakan sudah lebih dari sepekan ini hujan tidak
turun meskipun sdah memasuki musim penghujan sehingga pasokan air ke sawah amat
minim.
Petani yang baru
memasuki tahap tanam padi atau tandur dengn terpaksa harus memompa air dari
sumur-sumur pantek yang dibuat di pinggir pinggir saawah. Salah satu warga
disana juga mengatakan bahwa cuaca saat ini sulit untuk diperkirakan. Dimana
untuk bulan Desember diperkirakan pasokan air akan melimpah ruah karena musim
penghujan, nyatanya malah lebih dari sepekan tak kunjung turun hujan juga.
Padahal air hujan itu amat diharapkan oleh petani disana untuk keperluan
pengairan.
Sama halnya dengan apa
yang terjadi di Kecamatan Cawas dan Karangdowo, Klaten. Para petani di daerah
sana juga mengeluh minimnya pasokan air yang jauh berkurang dari sebelumnya.
Padahal di Daerah Klaten, dari total luas lahan sawah yang mencapai 33.554
hektar, hanya sekitar 19.000 hektar yang terakses jaringan irigasi teknis. seluas
6.000 hektar saawah terakses irigasi setengah teknis dan selebihnya irigasi
nonteknis. Dari irigasi yang ada itu, sekitar 40 persen saluran irigasi
tersier.
Tak ada bedanya dengan
petani yang ada di Kabupaten Magelang dan Temanggung. Kesulitan mendapatkan
air, membuat para petani berlomba untuk mencari dan berebut air dari mata air
bersama dengan para petani lainnya mengingat minimnya pasokan air dari irigasi.
Apalagi mengandalkan hujan yang tak tentu.
Jika kondisinya seperti
ini terus tanpa solusi, bukan tidak mungkin tanaman padi yang tak tercukupi air
akan mati dan para petani akan mengalami gagal panen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar