Selasa, 11 November 2014

DAMPAK NEGATIF PENGANGGURAN TERHADAP BISNIS DI INDONESIA



Pada dasarnya, pengangguran adalah suatu istilah yang diberikan kepada mereka yang dalam usia produktif (usia kerja),tetapi tidak bekerja atau tidak memiliki pekerjaan,sedang mencari pekerjaan, atau juga mereka yang bekerja kuran dari 2 hari dalam seminggu, bahkan mereka yang tidak memiliki pekerjaan yang layak atau tetap.

Pengangguran bukan merupakan hal baru di Indonesia.Hal ini merupakan cermin dari rancangan program perekonomian suatu negara terhadap kesejahteraan suatu rakyatnya.Pengangguran juga merupakan permasalahan yang sulit,buktinya dari tahun ke tahun dan  sampai saat ini, jumlah penganguran di Indonesia semakin bertambah dan terus bertambah akan tetapi tidak di imbangi oleh luasnya lapangan kerja. . Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi yang sudah ada tidak sanggup untuk menciptakan kesempatan kerja yang lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk yang makin pesat. Sehingga sangat sulit untuk menemukan solusi yang tepat.

Berikut factor-faktor  yang menyebabkan menyebarnya pengangguran. 

1. Terbatasnya lapangan kerja sementara jumlah penduduk semakin tinggi
Inilah faktor pertama dari pengangguran. Jumlah penduduk di Indonesia yang semakin tinggi dan terus meningkat,sementara lapangan kerja tidak mendukung, hal inilah yang menyebabkan pengangguran di Indonesia semakin meningkat. Hal ini terjadi karena jumlah pertumbuhan penduduk berbanding terbalik dengan jumlah pertumbuhan lapangan kerja atau kesempatan kerjaMengapa terjadi demikian? Banyak masyarakat berpandangan bahwa ‘banyak anak banyak rizki’. Pemikiran inilah yang mendorong masyarakat untuk memperbanyak anaknya tanpa ada kesadaran dari mereka bahwa bertambahnya anak merupakan bertambahnya jumlah jiwa yang akan mempersempit rumah yang menjadi twmpat tinggal mreka. Selain itu, anak juga merupakan beban yang harus ditanggung nya hingga anak tersebut dewasa. Jika sudah demikian, bagaimana solusinya? Solusinya adalah dengan melakukan sosialisasi terhaap masyarakat tentang KB dengan program dua anak cukup.

2.Pendidikan dan keterampilan yang rendah.
Biaya pendidikan yang mahal, mendorong orang tua kurang mampu untuk menghentikan kegiatan pendidikan anaknya. Padahal pendidikan dan keterampilan  merupakan modal utama dalam usaha mencari kerja.Selain itu, anggapan tetang ‘sarjana saja banyak yang menganggur’ membuat mereka berfikir untuk apa melanjutkan pendidikan tinggi kalau nanti akhirnya juga menjadi seorang pengangguran. Padahal merekalah yang berfikiran keliru. Dunia kerja memang menuntut para pekerjanya mempunyai pendidikan dan kemampuan yang memadai. Jadi seandainya ada sarjana yang menganggur,mungkin mereka memiliki keterampilan yang rendah.
Bagaimana solusinya? Solusinya yaitu dengna memberikan beasiswa kepada mereka yang tidak mampu agar kelangsungan pendidikannya tetap berjalan.

3.Angkatan kerja tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta dunia kerja.
Sama halnya dengan poin kedua, ketidak terpenuhinya persyaratan yang diminta dunia kerja seperti pendidikan dan keterampilan yang bagus hanya akan menambah jumlah pengangguran di Indonesia. Bahkan tak jarang kompetensi pencari kerja yang tidak  sesuai dengan pasar kerja. Misalnya, banyaknya lulusan pertanian yang bekerja di perbankan, lulusan ekonomi kerja di kehutanan, sehingga para masyarakat berpikir untuk memperoleh pekerjaan cukup dengan jalan pintas yang menyebabkan kurangnya keterampilan bagi calon pekerja karena tidak sesuai dengan posisi atau kemampuan yang dia miliki.
Solusinya adalah pemerintah dan juga perusahaan-perusahaan besar harus menetapkan aturan-aturan tentang rekrutmen pegawai sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, dan tidak asal-asalan dalam merekrutmen pegawai atau pekerja. Karna seperti yang kita ketahui biasanya di suatu perusahaan, rekrutmen pegawai dilakukan berdasarkan kekerabatan atau adnya aliran darah dari pegawai yang satu dngan yang lain tanpa melihat kualitas, bobot, ataupun keterampilan dari calon pegawai.

4. Teknologi yang semakin modern.
Kehadiran teknologi yang begitu penting dalam membantu suatu kegiatan agar lebih cepat selesai, akurat, efisien, dan biaya yang digunakan juga lebih sedikit, hal ini mendorong perusahaan lebih memilih menggunakan teknologi dari pada merekrut tenaga kerja.

5.Pengusaha yang selalu mengejar keuntungan dengan menerapkan sistem pegawai kontrak (outsourcing).
Sistem inil juga menimbulkan pengangguran musiman. Perusahaan menerapkan sistem tersebut karena dinilai lebih menguntungkan mereka yang tidak dibebankan pada biaya tunjangan pegawai dan biaya lain lain sehingga prusahaan lebih memiliki banyak keuntungan

6.Adanya pemutusan kerja dari perusahaan
Hal ini terjadi karena perusahaan bangkrut, sehingga melakukan PHK terhadap semua karyawannya, atau bisa juga karena mengurangi bidang usahanya sehingga terjadi pengurangan karyawan

7.Pemulangan TKI ke Indonesia.
TKI yang bermasalah di luar negeri sehingga harus di deportasi ke daerah asalnya tentunya hanya akan menambah daftar panjang para penganggur di Indonesia. Padahal sebenarnya diharapkan TKI tersebut dapat membantu pemerintah mengurangi jumlah pengangguran di negeri ini dan menambah devisa Negara. Hal ini terjadi karena kurangnya kontrol dari pihak-pihak yang mengurusi tentang TKI termasuk pegawai transmigrasi, PJTKI yang tidak menempatkan para TKI pada tempat yang layak dan tidak sesuai dengan kondisi dan kemampuan para TKI serta tidak sesuai dengan yang dijanjikan kepada para TKI sebelum diberangkatkan.

8.Penyediaan dan pemanfaatan tenaga kerja antar daerah tidak seimbang.
Jumlah angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah lain,. Perpindahan tenaga kerja dari suatu daerah ke daerah yang lain dengan kapasitas besar terkadang juga mengakibatkan pengangguran ke daerah tersebut. Karena daerah tersebut tidak mampu untuk menampung jumlah tenaga kerja yang terlalu banyak.

9. Rasa malas dan ketergantungan diri pada orang lain.
 Rasa malas dan ketergantungan terhadap orang lain merupakan penyakityang amat sulit untuk diobati sehingga membutuhkan kesadaran dari diri sendiri untuk mengobatinya.Ketergantungan membuat mereka menggantungkan hidupnya dengan orang lain tanpa mau berusaha untk memperoleh pekerjaan untuk mencukupi kebutuhannya sendiri. 


Lalu apa keterkaitannya pengangguran dengan bisnis di Indonesia? 

Pertama, jumlah pengangguran yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi negara. Hal ini dikarenakan, pengangguran tidak mempunyai pendapatan, sehigga menurunkan pendapatan perkapita. Atau degan istilah lain, pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil (nyata) yang dicapai masyarakat akan lebih rendah daripada pendapatan yang seharusnya. Oleh karena itu, kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih rendah.
pengangguran juga akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sektor pajak berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan perekonomian menurun  sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika penerimaan pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
Selanjutnya pengangguran juga akan menyebabkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomipun tidak akan terpacu.
Dengan menurunnya keinginan investor untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru, menyebabkan dampak yang sangan buruk bagi pertumbuhan bisnis di Indonesia.Bayangkan saja, penurunan investasi membuat kegiatan bisnis di Indonesia tidak bisa berjalan maksimal, sehingga sulit untuk memajukan sektor kegiatan bisnis tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar