Minggu, 25 Januari 2015

PENURUNAN HARGA DI SENTRA KOMODITAS



Sejak beberapa waktu lalu, harga komoditas seperti minyak sawit mentah dan batubara mengalami penurunan. Hal ini mengakibatkan perekonomian di sentra komoditas seperti di sejumlah daerah terpukul dengan penurunan harga tersebut. Minyak sawit mentah contohnya, yang merupakan komoditas substitusi minyak, harganya kini turun seiring dengan harga minyak dunia yang kini memang harganya sedang mengalami penurunan.Akan tetapi penurunan harga minyak dunia belum terlalu berdampak pada penurunan harga kelapa sawit.
Demikian halnya dengan batubara, harganya sudah mengalami penurunan sebelum harga minyak dunia turun.Seperti yang sedang di alami oleh usaha tambang batubara di daerah Jambi, saat ini usaha tersebut kian melemah, jumah pelaku usaha batubara pun kian menurun, dan diperkirakan pula hanya tinggal 9 izin usaha yang masih tersisa seiring dengan harga minyak dunia yang sedang mengalami penurunan.Padahal dua tahun yang lalu masih ada sekitar 300 izin usaha pertambangan.Bayangkan berapa persen usaha pertambangan yang gulung tikar karena pada dasarnya perusahaan-perusahaan tersebut hanya memegang kontrak jangka pendek yang hanya berdurasi beberapa tahun saja.Bayangkan berapa banyak karyawan yang telah dirumahkan akibat tutupnya perusahaan-perusahaan pertambangan kelas menengah ke bawah.Beberapa perusahaan memang masih ada yang bertahan hingga kini, ha itu dikarenakan mereka memiliki kontrak jangka panjang yang durasinya kisaran 10-15 tahun.
Penurunan harga kelapa sawit dan batubara juga turut memukul bisnis perbankan. Hal ini berpengaruh besar karena pada dasarnya, banyak kegiatan usaha ataupun bisnis yang terkait dengan kedua komoditas tersebut seperti halnya usaha bisnis pengangkutan,alat alat berat, rumah makan dan juga perhotelan, kebanyakan dari para pelaku bisnis tersebut mengambil kredit kepada bank untuk kegiatan usahanya, jika kedua komoditas ini mengalami penurunan, hal ini membuat pembayaran kredit kepada bank cukup terganggu.

Rabu, 21 Januari 2015

PERTUMBUHAN KREDIT PERBANKAN INDONESIA MELAMBAT



PERTUMBUHAN KREDIT PERBANKAN INDONESIA MELAMBAT



Dalam 13 bulan terakhir pertumbuhan kredit perbankan Indonesia berturut-turut melambat dan hanya tumbuh 12,6 persen selama setahun pada Oktober 2014 dan perlambatan pertumbuhan kredit ini terjadi hingga akhir tahun 2014.
Kredit perbankan bisa tumbuh lagi pada Januari 2015 dengan syarat pertumbuhan ekonomi membaik dibandingkan tahun 2014. Jika pertumbuhan ekonomi membaik, permintaan terhadap kredit bisa naik lagi. Hanya saja, pertumbuhan kredit industri perbankan masih tetap akan dipengaruhi oleh naik atau tidak nya suku bunga acuan BI pada 2015.


Bank Sentral AS, Th Fed, kemungkinan besar menaikkan suku bunga acuannya. Kenaikan suku bunga acuan The Fed kemungkinan akan di ikuti kenaikan suku bunga acuan BI guna menahan arus keluar modal asing dari portofolio di Indonesia.


Pelambatan pertumbuhan kredit terjadi di sebagian besar sektor kecuali industri pengolaha, konstruksi, dan jasa keuangan. Kredit untuk industri pengolahan masih tumbuh 17,4 persen, meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya, 16,1 persen. Kredit jasa keuangan masih tumbuh 13,8 persen dari bulan sebelumnya 11,8 persen dan kredit konstruksi tumbuh 26,3 persen naik signifikan dari pada bulan sebelumnya, 18,7 persen.


Pertumbuhan ekonomi yang kemungkinan juga masih melambat hingga akhir tahun akan menyebabkan permintaan terhadap kredit melambat. Bagi industri perbankan, kondisi tahun 2015 masih penuh tantangan. Walau demikian, industri perbankan dinilai masih tetap masih bisa berkembang jika pemerintah memberi dukungan penuh.


Kita ambil contoh, jumlah perizinan untuk pembangunan perumahan tidak kurang dari 28 buah. Jika perizinan bisa dikurangi, misalnya tinggal setengahnya saja, perkembangan bank  yang memiliki bisnis dalam penyaluran kredit perumahan akan bisa berkembang.


Likuiditas perbankan juga akan meningakt pada 2015. Tambahan likuiditas perbankan akan datang dari pemerintah karena ruang fiskal bertambah lebar setelah subsidi bahan bakar minyak jenis premium dicabut dan memberi  subsidi tetap sebedar Rp 1.000 per liter untuk solar.


Referensi : Koran Kompas Edisi Senin, 12 Januari 2015, Halaman 19


Kamis, 15 Januari 2015

PENURUNAN HARGA BBM TAK BERDAMPAK



PENURUNAN HARGA BBM TAK BERDAMPAK



Harga BBM memang turun pada awal Januari ini. Pro dan kontra mewarnai  berita ini. Ada yan g menyambutnya dengan gembira karena harga BBM turun, untuk mereka yang menggunakan kendaraan bermotor, setidaknya mereka bisa menghemat anggaran untuk BBM untuk kendaraan bermotornya tersebut. Sehingga anggaran sisanya bisa digunakan untuk kebutuhan yang lain atau untuk mereka tabungkan.


Lain hal nya dengan apa yang dirasa oleh pengusaha kecil menengah tahu bandung di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Turunnya harga BBM pada awal Januari ini tidak di ikuti dengan turunnya harga bahan baku pembuatan tahu tersebut. Harga kedelai yang kini mencapai Rp 8.400 per kilogram dikeluhkan para pengusaha kelas menengah tersebut.


Pasalnya, dengan harga bahan baku yang sudah tinggi tersebut, nantinya mereka tidak akan mendapatkan keuntungan maksimal. Mengingat nantinya mereka masih harus membeli bahan baku untuk esok, membayar gaji karyawan, biaya produksi, dan untuk biaya lainnya. Bahkan jika tak kuat modal, mereka akan mengalami gulung tikar karena tak mampu bersaing dengan harga.


Harga BBM memang sedikit banyak berpengaruh kepada banyak harga kebutuhan yang lain. Saat BBM naik, mayoritas harga turut naik. Seperti harga cabai misalnya. Saat BBM naik, harga cabai juga sepedas rasanya. Bahkan untuk cabai besar, waktu itu harganya sempai mencapai Rp 1.500 per buah. Begitu juga untuk harga sembako dan sayur mayur di pasar. Semuanya melonjak naik.


Tak ubahnya dengan tarif  angkot, dari yang baisa tarifnya Rp 3.000 untuk sekali perjalanan, saat awal di umumkan kenaikan BBM, ada angkot yang memasang tarif Rp 5.000 untuk sekali jalan baik itu jauh maupun dekat. Dan kini, saat BBM turun, mereka belum juga menurunkan tarif untuk penumpang. Padahal bahan baku utama mereka adalah Bahan Bakar Minyak yang notabene harganya sudah turun. Mereka memang untung. Tapi bagaimana dengan kita para pengguna jasa angkutan umum seperti angkutan umum tersebut?


Diharapkan untuk pemerintah menindak segera bagaimana baiknya dari dampak penurunan harga BBM ini.

Senin, 12 Januari 2015

EKSPOR MEBEL DAN ANEKA KERAJINAN KAYU TERHAMBAT



EKSPOR MEBEL DAN ANEKA KERAJINAN KAYU TERHAMBAT


Aneka kerajinan kayu milik sejumlah pengusaha mebel dan kerajinan di Indonesia terhambat untuk di ekspor ke Australia dan Eropa. Ada 18 kontainer berisi aneka kerajinan kayu dari Yogyakarta yang tidak bisa masuk ke Australia dan Eropa pada awal tahun ini. Dimana total nilai kerajinan ekspor kayu itu senilai Rp 7,55 miliar. Pelaku Industri Kecil Menengah di Jepara juga merasa kebingungan karena ada 5 kontainer berisi barang senilai total Rp 150 juta juga tidak diterima oleh Australia dan juga Eropa. Sama halnya dikarenakan dokumen deklarasi ekspor mereka ditolak.


Terhambatnya ekspor mebel ini dikarenakan kedua negara benua tersebut tidak mau menerima dokumen deklarasi ekspor sebagai pengganti dokumen legalitas kayu atau V-legal. Dokumen v-legal adalah dokumen yang menyatakan bahwa produk kayu tujuan ekspor memenuhi standar verifikasi legalitas kayu sesuai dengan ketentuan Pemerintah RI.


Pada 29 Desember 2014, Kementerian Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 97 Tahun 2014 tentang ketentuan ekspor Produk Industri Kehutanan. Permendag memberikan kemudahan ekspor bagi industri kecil menengah pemilik eksportir terhadap produk industri kehutanan yang beluk memiliki surat legalitas kayu. Dimana mereka cukup menggunakan deklarasi ekspor sebagai pengganti dokumen V-legal. 


Padahal, akhir tahun lalu pemerintah sudah meresmikan deklarasi ekspor sebagai pengganti V-legal. Dan ada satu kontainer mebel kayu dan rotan senilai kurang lebih Rp 151 juta juga tidak diterima leh kedua negara tersebut. Padahal waktu itu pengusaha mebel tersebut menyertakan dokumen deklarasi ekspor karena surat legalitas kayu belum diperpanjang.


Kesimpulan :

Harapan pertama adalah pemerintah. Agar pemerintah segera mengatasi persoalan ini. Mungkin yang harus dilakukan pemerintah adalah menyosialisasikan dokumen deklarasi ekspor kepada pihak Australian dan Eropa  karena legalitas dokumen deklarasi ekspor itu setara dengan dokumen V-legal dimana nantinya pengusaha kerajinan kayu di Indonesia dapat kembali mengekspor hasil kerajinannya ke negara tujuan. Mengingat banyaknya Industri Kecil Menengah yang masih kebingungan untuk mengekspor produk kayu nya.


Referensi : Koran Kompas Edisi Senin, 12 Januari 2014 Halaman 18

Sabtu, 10 Januari 2015

HARGA MINYAK MENTAH TURUN



HARGA MINYAK MENTAH TURUN

Harga minyak mentah kini berada di kisaran 50 dollar AS per barrel, turun 50 persen sejak Juni 2014.Walau harga minyak jatuh sampai 20 dollar AS per barrel, produksi minyak mentah OPEC tak akan diturunkan, kata Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali Al-Naimi saat wawancara dengan Middle East Economic Survey pada 21 Desember 2014. Menurutnya, harga minyak mentah dunia saat ini memang harga yang seharusnya.


Analisis Bank Dunia, keuntungan dari harga minyak yang turun bisa sangat besar bagi banyak negara berkembang pengimpor minyak. Menurut Bank Dunia, penurunan harga minyak juga akibat berkurangnya risiko geopolitik di negara-negara penghasil minyak. Alasan lain yaitu menguatnya kurs Dollar AS. Hal ini berbanding terbalik dengan harga minyak.


Bank Dunia juga memperkirakan bahwa harga minyak dunia saat ini akan bertahan sepanjang 2015 dan baru mulai naik pada 2016. Inilah hal yang memberikan keuntungan ekonomis bagi negara-negara importir minyak walau mengurangi keuntungan negara-negara pengekspor minyak. Harga minyak yang turun membuat komoditas ini bukan lagi investasi yang aman untuk menjaga nilai aset dalam denomisasi dollar AS.


Bagi importir minyak, turunnya harga minyak mendorong pertumbuhan karena biaya produksi lebih rendah. Harga minyak rendah akan menekan harga dan mengurangi tekanan inflasi, serta tekanan pada anggaran negara dan perusahaan.


Selama ini harga minyak tinggi mendorong banyak negar menaikkan subsidi yang membebani anggaran, termasuk negara kita Indonesia.  Berkurangnya beban subsidi juga memungkinkan banyak negara memuluskan program pembangunan dan dan melanjutkan reformasi struktural perekonomian. Dengan kata lain, dana untuk subsidi minyak bisa dialihkan ke program pembangunan lainnya.


Referensi : Koran Kompas