Sejak beberapa waktu
lalu, harga komoditas seperti minyak sawit mentah dan batubara mengalami
penurunan. Hal ini mengakibatkan perekonomian di sentra komoditas seperti di
sejumlah daerah terpukul dengan penurunan harga tersebut. Minyak sawit mentah
contohnya, yang merupakan komoditas substitusi minyak, harganya kini turun
seiring dengan harga minyak dunia yang kini memang harganya sedang mengalami
penurunan.Akan tetapi penurunan harga minyak dunia belum terlalu berdampak pada
penurunan harga kelapa sawit.
Demikian halnya dengan
batubara, harganya sudah mengalami penurunan sebelum harga minyak dunia turun.Seperti
yang sedang di alami oleh usaha tambang batubara di daerah Jambi, saat ini
usaha tersebut kian melemah, jumah pelaku usaha batubara pun kian menurun, dan
diperkirakan pula hanya tinggal 9 izin usaha yang masih tersisa seiring dengan
harga minyak dunia yang sedang mengalami penurunan.Padahal dua tahun yang lalu
masih ada sekitar 300 izin usaha pertambangan.Bayangkan berapa persen usaha
pertambangan yang gulung tikar karena pada dasarnya perusahaan-perusahaan
tersebut hanya memegang kontrak jangka pendek yang hanya berdurasi beberapa
tahun saja.Bayangkan berapa banyak karyawan yang telah dirumahkan akibat
tutupnya perusahaan-perusahaan pertambangan kelas menengah ke bawah.Beberapa
perusahaan memang masih ada yang bertahan hingga kini, ha itu dikarenakan
mereka memiliki kontrak jangka panjang yang durasinya kisaran 10-15 tahun.
Penurunan harga kelapa
sawit dan batubara juga turut memukul bisnis perbankan. Hal ini berpengaruh
besar karena pada dasarnya, banyak kegiatan usaha ataupun bisnis yang terkait
dengan kedua komoditas tersebut seperti halnya usaha bisnis pengangkutan,alat
alat berat, rumah makan dan juga perhotelan, kebanyakan dari para pelaku bisnis
tersebut mengambil kredit kepada bank untuk kegiatan usahanya, jika kedua
komoditas ini mengalami penurunan, hal ini membuat pembayaran kredit kepada
bank cukup terganggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar