PERTUMBUHAN
KREDIT PERBANKAN INDONESIA MELAMBAT
Dalam 13 bulan terakhir
pertumbuhan kredit perbankan Indonesia berturut-turut melambat dan hanya tumbuh
12,6 persen selama setahun pada Oktober 2014 dan perlambatan pertumbuhan kredit
ini terjadi hingga akhir tahun 2014.
Kredit perbankan bisa
tumbuh lagi pada Januari 2015 dengan syarat pertumbuhan ekonomi membaik
dibandingkan tahun 2014. Jika pertumbuhan ekonomi membaik, permintaan terhadap
kredit bisa naik lagi. Hanya saja, pertumbuhan kredit industri perbankan masih
tetap akan dipengaruhi oleh naik atau tidak nya suku bunga acuan BI pada 2015.
Bank Sentral AS, Th
Fed, kemungkinan besar menaikkan suku bunga acuannya. Kenaikan suku bunga acuan
The Fed kemungkinan akan di ikuti kenaikan suku bunga acuan BI guna menahan
arus keluar modal asing dari portofolio di Indonesia.
Pelambatan pertumbuhan
kredit terjadi di sebagian besar sektor kecuali industri pengolaha, konstruksi,
dan jasa keuangan. Kredit untuk industri pengolahan masih tumbuh 17,4 persen,
meningkat dari pertumbuhan bulan sebelumnya, 16,1 persen. Kredit jasa keuangan
masih tumbuh 13,8 persen dari bulan sebelumnya 11,8 persen dan kredit
konstruksi tumbuh 26,3 persen naik signifikan dari pada bulan sebelumnya, 18,7
persen.
Pertumbuhan ekonomi
yang kemungkinan juga masih melambat hingga akhir tahun akan menyebabkan
permintaan terhadap kredit melambat. Bagi industri perbankan, kondisi tahun
2015 masih penuh tantangan. Walau demikian, industri perbankan dinilai masih
tetap masih bisa berkembang jika pemerintah memberi dukungan penuh.
Kita ambil contoh,
jumlah perizinan untuk pembangunan perumahan tidak kurang dari 28 buah. Jika
perizinan bisa dikurangi, misalnya tinggal setengahnya saja, perkembangan
bank yang memiliki bisnis dalam
penyaluran kredit perumahan akan bisa berkembang.
Likuiditas perbankan
juga akan meningakt pada 2015. Tambahan likuiditas perbankan akan datang dari
pemerintah karena ruang fiskal bertambah lebar setelah subsidi bahan bakar
minyak jenis premium dicabut dan memberi
subsidi tetap sebedar Rp 1.000 per liter untuk solar.
Referensi : Koran
Kompas Edisi Senin, 12 Januari 2015, Halaman 19
Tidak ada komentar:
Posting Komentar